feedburner
Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

feedburner count

Pengetahuan dan Pengukuran


Posted By: Sukarti 

Pengertian pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007) Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu  objek tertentu. Penginderaan itu terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar penginderaan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Penelitian Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoadmodjo (2007) menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati 5 tahap yaitu awarenest (kesadaran), interest (tertarik pada stimulus), evaluation (mengevaluasi atau menimbang baik tidaknya stimulus) dan trial (mencoba) serta adoption (subjek telah berprilaku baru). Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan, dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoadmodjo (2007), pengetahuan dibagi menjadi enam tingkatan yang tercakup dalam domain kognitif yaitu :
a)Mengetahui/Tahu (Know)
Dapat diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu (know) ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.
b)Pemahaman (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Seseorang yang telah faham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat menyimpulkan dan menyebutkan contoh, menjelaskan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c)Penerapan/Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya).  Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus dan metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d)Analisa (Analisis)
Arti dari analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.  Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e)Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian kepada suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
f)Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada misalnya dapat menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu mengalami anemia dan lain sebagainya.

Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur. Guna mengukur suatu pengetahuan dapat digunakan suatu pertanyaan. Adapun pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk pengukuran pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu pertanyaan subjektif misalnya jenis pertanyaan essay dan pertanyaan objektif misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple choice), betul-salah dan pertanyaan menjodohkan. Pertanyaan essay disebut pertanyaan subjektif karena penilaian untuk pertanyaan ini melibatkan factor subjektif dari nilai, sehingga nilainya akan berbeda dari seorang penilai yang satu dibandingkan dengan yang lain dan dari satu waktu ke waktu lainnya. Pertanyaan pilihan ganda, betul-salah, menjodohkan disebut pertanyaan objektif karena pertanyaan-pertanyaan itu dapat dinilai secara pasti oleh penilainya tanpa melibatkan faktor subjektifitas dari penilai. Pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk pengukuran pengetahuan secara umum yaitu pertanyaan subjektif dari peneliti. Pertanyaan objektif khususnya pertanyaan pilihan ganda lebih disukai dalam pengukuran pengetahuan karena lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan penilaiannya akan lebih cepat. Menurut Notoatmodjo (2007) bahwa sebelum orang menghadapi perilaku baru, didalam diri seseorang terjadi proses berurutan yakni: Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari terlebih dahulu terhadap stimulus. Interest (merasa tertarik) terhadap objek atau stimulus. Trail yaitu subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya. 
Menurut Arikunto (2010), pengukuran pengetahuan ada dua kategori yaitu: menggunakan pertanyaan subjektif misalnya jenis pertanyaan essay dan pertanyaan objektif misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple choise), pertanyaan betul salah dan pertanyaan menjodohkan.

Rumus Pengukuran Pengetahua:

P = f/N x 100%

Dimana:
P : adalah persentase
f : frekuensi item soal benar
N : jumlah soal

Sedangkan untuk pengkategorian pengetahuan yang umum digunakan yaitu:
1.Kategori baik dengan nilai 76-100 %
2.Kriteria cukup dengan nilai 56-75 %
3.Kriteria kurang dengan nilai 40-55 %
4.Kriteria tidak baik dengan nilai < 40 %.

Faktor Resiko Yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas

Label:


Pneumonia masih merupakan penyakit utama terjadinya kesakitan dan kematian pada bayi dan balita terbesar di seluruh dunia. Pneumonia disebabkan oleh lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia, dan faktor resiko lainnya seperti faktor lingkungan seperti: keberadaan perokok, faktor individu anak seperti: umur anak dan ASI eksklusif, serta faktor ibu seperti: perilaku hidup bersih dan sehat. Data jumlah kasus pneumonia pada balita Provinsi Lampung tahun 2007 sebesar 9.939 kasus, sedangkan untuk Kabupaten Lampung Timur sebanyak 1.396 kasus (14,04%). Dari hasil studi dokumentasi angka kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas batanghari mengalami peningkatan. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu faktor resiko apa saja yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Batanghari Kabupaten Lampung Timur Tahun 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian Pneumonia pada balita di Puskesmas Batanghari Kabupaten Lampung Timur Tahun 2011.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua balita yang berkunjung ke Puskesmas tahun 2011 yang berjumlah 1.197, sampel sebanyak 93 balita dengan tehnik pengambilan systematic random sampling. Alat ukur yang digunakan dengan dengan dokumentasi angket dengan alat ukur berupa lembar kuisioner yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase dan bivariat dengan analisa chi square.
Hasil pengolahan data bahwa frekuensi kejadian Pneumonia  sebanyak 36 balita (38,71%), usia balita tidak beresiko 69 balita (47,19%), tidak mendapatkan ASI Ekskusif 58 balita (62,37%), terpapar asap rokok 52 balita (55,91%), terdapat hubungan antara usia balita dengan kejadian pneumonia p= 0,003, terdapat hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian pneumonia p= 0,027, terdapat hubungan antara paparan asap rokok pada balita dengan kejadian pneumonia p= 0,021.
Kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan antara usia balita, pemberian ASI Eksklusif dan paparan asap rokok pada balita dengan kejadian pneumonia. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak puskesmas untuk memberikan penyuluhan tentang resiko pneumonia pada balita, penggalakkan ASI eksklusif, dan bahaya merokok

Kata Kunci : Faktor resiko, Pneumonia pada balita 
Daftar Bacaan : 23 (1998-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Pemantauan Pertumbuhan Balita Dengan Status Gizi Balita Di Posyandu

Label:


Kekurangan gizi di kalangan anak-anak masih umum di banyak bagian dunia. Menurut perkiraan baru-baru ini, 115 juta anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia mengalami kekurangan berat badan. Di Indonesia persentase anak-anak berusia di bawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk (8,8%) dan gizi kurang (19,24%). Pemantauan terhadap pertumbuhan balita masih ditemukan rendahnya balita yang mengalami kenaikan berat badan berdasarkan umur di posyandu desa Gondangrejo masih rendah (78,2%) dibandingkan target sebesar 80%. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan bahwa dari 30 orang ibu yang mempunyai balita di Dusun I Desa Gondangrejo terdapat 18 orang ibu balita (60%) yang berpengetahuan kurang tentang pemantauan pertumbuhan balita.
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang pemantauan pertumbuhan balita dengan status gizi balita di posyandu Desa Gondangrejo Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu balita yang ada di Desa Gondangrejo Pekalongan Kabupaten Lampung Timur yang berjumlah 367 dan yang menjadi sampel berjumlah 192 ibu balita dengan tehnik pengambilan simple random sampling. Cara ukur yang digunakan dengan dengan angket dan alat ukur berupa lembar kuisioner dan lembar cheklist yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase dan bivariat dengan analisa chi square.
Hasil pengolahan data pengetahuan ibu tentang pemantauan pertumbuhan balita dengan pengetahuan kurang sebanyak 27,60% (53 dari 192 ibu) dan status gizi kurang sebesar 10,42% (20 dari 192 balita). Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang pemantauan pertumbuhan balita dengan status gizi balita dengan x2 hitung: 20,08 > x2 tabel 3,841.
Kesimpulan penelitian bahwa masih terdapat ibu dengan pengetahuan yang kurang tentang pertumbuhan balita, masih terdapat balita dengan status gizi kurang, dan terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang pemantauan pertumbuhan balita dengan status gizi balita di posyandu Desa Gondangrejo Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak puskesmas dan bidan untuk lebih aktif dalam kegiatan posyandu guna memberikan penyuluhan tentang pemantauan pertumbuhan balita.

Kata Kunci : Pengetahuan, Pertumbuhan, Status gizi
Daftar Bacaan : 21 (1994-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap dengan Kelengkapan Imunisasi TT pada Ibu Hamil di PKM

Label:


Penggunaan imunisasi yang penting pada wanita usia subur dan ibu hamil adalah imunisasi TT yang berguna untuk mencegah terjadinya tetanus. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Tetanus neonatorum menyebabkan 50% kematian perinatal dan menyumbangkan 20% kematian bayi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi atau pencapaian imunisasi TT pada ibu hamil salah satunya adalah perilaku ibu terhadap imunisasi TT tersebut. Hasil studi pendahuluan di Puskesmas Rajabasa Lama terdapat 1 kasus tetanus mengakibatkan kematian bayi dan 70% ibu dengan pengetahuan yang baik, dan 60% dengan sikap tidak mendukung imunisasi TT
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan kelengkapan Imunisasi TT pada ibu hamil di PKM Rajabasa Lama Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil pada bulan Januari 2012 yang berjumlah 182 orang. dan sampel diambil menggunakan rumus Slovin dengan tehnik simple ramdon sampling sejumlah 125 orang. Cara ukur yang digunakan dengan angket dengan alat ukur berupa kuisioner dan lembar checklist yang dianalisa secara univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat dengan uji chi square.
Hasil pengolahan data bahwa proporsi kelengkapan Imunisasi TT pada ibu hamil terbanyak tidak lengkap sebanyak 82 ibu (65,60%), distribusi frekuensi pengetahuan ibu hamil terbanyak dengan pengetahuan yang kurang  yaitu sebanyak 65 ibu (52,00%), dan distribusi frekuensi sikap ibu hamil terbanyak adalah dengan sikap tidak mendukung sebanyak 64 ibu (51,20%). Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan kelengkapan Imunisasi TT dengan p value 0,03, dan terdapat hubungan antara sikap ibu dengan kelengkapan Imunisasi TT dengan p value: 0,000.
Kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan kelengkapan Imunisasi TT di PKM Rajabasa Lama Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur Tahun 2012. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak PKM untuk menyusun program KIA dengan penyuluhan pada ibu hamil mengenai pentingnya kelengkapan imunisasi TT.

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Status Imunisasi TT
Daftar Bacaan : 22 (2001-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Gambaran Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini oleh bidan di Wilayah Kerja Puskesmas

Label:


Angka kematian bayi di Indonesia menurut WHO disebutkan bahwa pada tahun 2010 kematian bayi pada kelahiran dan umur kurang dari satu tahun sebesar 27/1000 kelahiran hidup. Dalam upaya penurunan angka kematian bayi dan mencapai ASI Eksklusif, Inisiasi Menyusu Dini adalah langkah untuk mencapai hal tersebut. Hasil pre survey diperoleh data di Puskesmas Kotagajah pada tahun 2011 pencapaian ASI eksklusif baru mencapai 39,36%, dan sebagian besar BPS tidak melakukan IMD.
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini oleh Bidan di wilayah kerja Puskesmas Kotagajah Lampung Tengah tahun 2012.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah semua bidan yang melakukan pertolongan persalinan di wilayah kerja Puskesmas Kotagajah  yang berjumlah 21 bidan dan sampel diambil dari keseluruhan populasi menggunakan tehnik total sampling. Cara ukur yang digunakan dengan angket dengan alat ukur berupa lembar checklist yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase.
Hasil pengolahan data diperleh gambaran pelaksanaan inisiasi menyusu dini oleh bidan di wilayah kerja Puskesmas Kotagajah Lampung Tengah tahun 2011 dari 8 langkah pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini sebagian besar sudah dilaksanakan oleh bidan sesuai dengan prosedur (76,19%), dilaksanakan tidak sesuai prosedur 19,05% dan yang tidak dilaksanakan sebesar 4,76%.
Kesimpulan penelitian bahwa gambaran pelaksanaan inisiasi menyusu dini oleh bidan di wilayah kerja Puskesmas Kotagajah Lampung Tengah tahun 2011 sebagian besar sudah dilaksanakan oleh bidan sesuai dengan prosedur. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak tenaga kesehatan terutama bidan di Puskesmas Kotagajah untuk dapat meningkatkan ketrampilannya dalam pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini.


Kata Kunci : Pelaksanan, Inisiasi Menyusi Dini
Daftar Bacaan : 11 (2006-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Gambaran Penyebab Ruptur Perineum Spontan pada Persalinan Normal di BPS

Label:


Rupture perineum adalahluka pda perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu. Pada proses persalinan terdapat tiga faktor yang berperan terhadap terjadinya robekan perineum yaitu faktor ibu, bayi dan penolong persalinan. Faktor ibu yaitu usia ibu, paritas, elastisitas perineum dan lebar perineum. Faktor bayi yaitu berat badan bayi, presentasi kepala dan defleksi kepala bayi terlalu cepat. Faktor penolong yaitu posisi ibu saat melahirkan, partus presipitatus dan kesalahan mengedan. Dari hasil data para survey yang dilakukan penulis angka kejadian ruptur perineum pada BPS Devinalis dalam waktu 3 tahun mengalami peningkatan yaitu dari tahun 2009 (59,9%), tahun 2010 (60,5%) dan tahun 2011 menjadi (64,12%).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyebab ruptur perineum spontan pada persalinan normal di BPS Devinalis Kabupaten Pesawaran tahun 2011, meliputi faktor paritas, berat badan bayi dan partus presipitatus.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin normal dan mengalami ruptur perineum spontan yang tercatat di kartu ibu yang berjumlah 84 orang. Tehnik pengambilan sampel adalah total sampling. Cara ukur yang digunakan dengan dokumentasi dari data sekunder di BPS Devinalis dan pengumpulan data dengan alat ukur berupa lembar ceklist yang dianalisa secara univariat berbentuk distribusi frekuensi dan proporsi.
Hasil penelitian proporsi paritas 66,67% primipara, 32,14% multipara, 1,19% grande multipara. Proporsi berat badan bayi lahir 94,05% dengan berat badan 2.500-4.000 gr dan 5,95% dengan berat badan > 4.000 gr. Proporsi tidak partus presipitatus 95,24%, dan 4,76% partus presipitatus.
Kesimpulan penelitian proporsi kejadian ruptur perineum spontan sebagian besar 66,67% disebabkan karena faktor paritas primipara, sebesar 5,95% rupture perineum disebabkan karena berat badan lahir > 4.000 gr dan 4,76% disebabkan karena partus presipitatus. Berdasarkan hasil tersebut diharapkan tenaga bidan di BPS Devinalis untuk melakukan konseling pada ibu hamil sebagai persiapan menghadapi persalinan terutama konseling untuk mencegah terjadinya rupture perineum dan melakukan pertolongan sesuai dengan standar APN.


Kata Kunci : Rupture perineum, paritas, berat badan bayi, partus presipitatus
Daftar Bacaan : 18 (1998-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Retensio Plasenta pada ibu bersalin di BPS

Label:


Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu prioritas utama dalam pembangunan sektor kesehatan sebagaimana tercantum dalam Propenas serta strategi Making Pregnancy Safer (MPS) atau kehamilan yang aman sebagai kelanjutan dari program Safe Motherhood dengan tujuan untuk mempercepat penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir (MDG’s, 2010), dalam pernyataan yang diterbitkan di situs resmi WHO dijelaskan bahwa untuk mencapai target Millennium Development Goal’s, penurunan angka kematian ibu dari tahun 1990 sampai dengan 2015 haruslah mencapai 5,5 persen pertahun (antaranews, 2007).
Perdarahan bertanggung jawab atas 28 persen kematian ibu, salah satu penyebab kematian ibu sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas yang terjadi karena retensio plasenta, sehingga perlu dilakukan upaya penanganan yang baik dan benar yang dapat diwujudkan dengan upaya peningkatan ketrampilan tenaga kesehatan khususnya dalam pertolongan persalinan, peningkatan manajemen Pelayanan Obstetric Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obstetric Neonatal Emergensi Komprehensif, ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas kesehatan yang merupakan prioritas dalam pembangunan sektor kesehatan guna pencapaian target MDG’s tersebut.
Rentensio plasenta dapat menyebabkan perdarahan, perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%-60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. Berdasarkan data kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan di Indonesia adalah sebesar 43%. Menurut WHO dilaporkan bahwa 15-20% kematian ibu karena retensio plasenta dan insidennya adalah 0,8-1,2% untuk setiap kelahiran. Dibandingkan dengan resiko-resiko lain dari ibu bersalin, perdarahan post partum dimana retensio plasenta salah satu penyebabnya dapat mengancam jiwa dimana ibu dengan perdarahan yang hebat akan cepat meninggal jika tidak mendapat perawatan medis yang tepat (PATH, 2002).
Data WHO menunjukkan sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran (WHO, 2010).
Angka Kematian Ibu di Indonesia masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN. Berdasarkan data WHO untuk tahun 2010 Rasio kematian ibu (MMR) selama kehamilan dan melahirkan atau dalam 42 hari setelah melahirkan, per 100.000 kelahiran hidup untuk negara Indonesia sebesar berkisar antara 140-380/100.000 kelahiran hidup sedangkan untuk sesama negara ASEAN seperti Thailand berkisar antara 32-36/100.000 Kelahiran Hidup dan Malaysia 14-68/100.000 kelahiran hidup. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI di Indonesia untuk periode lima tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2009). 


Angka kematian ibu di Propinsi Lampung berdasarkan Profil Kesehatan Lampung Tahun 2009 adalah sebesar 103 kasus (Dinkes Lampung, 2009), dan untuk AKI di Metro pada tahun 2009 mencapai 167 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Metro, 2009). Kejadian retensio plasenta di RSU A. Yani Metro untuk tahun 2009 tercatat sebanyak 79 kasus atau 11,93% dari 662 persalinan dan untuk tahun 2010 meningkat menjadi 93 kasus atau 15,89% dari 585 persalinan (RSU. A. Yani Metro, 2010), dimana angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan angka kejadian di RS Demang Sepulau Raya untuk tahun 2010 sebesar 10,68% dari 571 Persalinan (RS. DSR, 2010).
Retensio plasenta disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor maternal seperti paritas dan faktor perlukaan uterus yaitu riwayat retensio plasenta terdahulu serta riwayat endometritis (Oxorn, 2010). Kejadian retensio plasenta juga berkaitan dengan grandemultipara dengan implantansi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive, akreta, inkreta dan perkreta serta memerlukan tindakan plasenta manual segera bila terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang (Manuaba, 2008). Kejadian retensio plasenta ini juga dapat berkaitan dengan usia ibu yang tidak dalam usia reproduksi yang sehat dimana  wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan  (Prawirohardjo, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian Owolabi, dkk. (2008) di Barat Daya Nigeria bahwa terdapat hubungan antara usia dengan retensio plasenta dengan usia ibu 35 tahun atau lebih dengan dengan OR: 7,11, riwayat retensio plasenta sebelumnya dengan OR: 15,22, multiparitas besar dengan OR: 6,63, dan penelitian Dare FO, Oboro VO. (2003) di Obafemi Awolowo University Teaching Hospitals Complex, Ile-Ife, Nigeria dengan hasil bahwa faktor terkait dengan plasenta akreta  yaitu usia ibu minimal 35 tahun dan graviditas.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan di BPS Sudilah Ganjar Agung masih ditemukan cukup tingginya kasus ibu bersalin dengan retensio plasenta yaitu pada tahun 2009 sebesar 32 kasus (10,28%) dari 311 persalinan, tahun 2010 sebesar 34 kasus (11,07%) dari 307 persalinan, dan untuk tahun 2011 sampai dengan bulan Desember sudah terdapat 59 kasus (20,55%) dari 287 persalinan dan dari 59 kasus tersebut, 10 ibu dirujuk ke dokter spesialis dan rumah sakit. Kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPS Siti Marhamah untuk tahun 2009 terapat 10,52% dari 76 persalinan, tahun 2010 sebesar 10,66% dari 75 persalinan dan tahun 2011 sampai dengan bulan Desember terdapat 6 kasus (12%) dari 50 persalinan

HASILPENELITIAN

  1. Proporsi kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah pada tahun 2011 adalah sebanyak 37 responden (22,16%), dengan usia yang beresiko tinggi sebanyak 23 responden (13,77%), paritas beresiko tinggi (1 atau > 3) sebanyak 58 responden (34,73%) dan dengan riwayat retensio pada persalinan sebelumnya  sebanyak 23 responden (13,77%).
  2. Terdapat hubungan antara usia dengan kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah tahun 2011 dengan nilai  p = 0,003 <   = 0,05 dan OR : 4,160.
  3. Terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah tahun 2011 dengan nilai p = 0,043 <  = 0,05 dan nilai OR: 2,291.
  4. Terdapat hubungan antara riwayat retensio plasenta sebelumnya dengan kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah tahun 2011 dengan nilai p = 0,000 >  = 0,05 dan nilai OR: 6,500. 

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA